Latest News

CURHAT HABIS RAPAT


Aku mencoba untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh kammi sidoarjo ini, dua tahun sudah kita bersama sama di jalan dakwah ini, di tanzhim yang mudah-mudahan Allah SWT memberikan rahmatnya.

Kawanku seiman yang dirahmati Allah, sungguh aku hanyalah makhluk Allah yang bercita – cita syahid demi menegakan kalimat Allah dan demi sebuah cita : wahdatul Ummat. Sebuah agenda besar yang tidak hanya dimiliki olehku, tapi juga kamu, orang lain, mereka, serta semua kaum mukminin yang merindu akan kebangkitan umat ini.

Dan semua harus kita awali dari sini, di kesatuan aksi mahasiswa muslim Indonesia, bukan…bukan karena terpaksa, bukan karena terlanjur berada disini, tetapi karena kita adalah muslim, kita adalah mahasiswa, dan kita adalah seorang Indonesia.

Kita hidup dari syuro satu ke syuro selanjutnya, diskusi, aksi, mengaji, kerja nyata, sharing, menyatakan sikap kepada dunia.., sungguh semua itu akan memberatkan timbangan baik kita di yaumil hisab nanti InsyaAllah…


Tapi wahai kawan…, bertahankah kalian di jalan mulia ini?

Syuro itu adalah syuro yang teramat berat bagiku, bagai sembilu tumpul yang berusaha memotong hati yang mulai membiru. Kalimat demi kalimat yang dirasa lebih mematikan daripada nuklir itu telah meledak di dalam jiwaku. Entah apa yang menyebabkan hal itu terjadi, kesalahan pribadiku? Ketidakpuasan? Ketidakpercayaan?ketidaksabaran? kemarahan? ataukah sebuah kondisi kritis yang bermakna bagai api dalam sekam?.

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam”

Kawan, dahulu aku tidak mengerti mengapa kakak-kakak yang menamakan dirinya kammi itu bersama kakak-kakak dari organisasi mahasiswa lain itu rela turun ke jalan disaat kerusuhan dan penjarahan merebak di khatulistiwa ini. Aku berbangga ketika bendera kakak-kakak itu memenuhi langit ibu kota menyatakan pada dunia bahwa tirani adalah musuh abadi kammi. Kemarahanku membuncah ketika kudapati jilbab kakak senior yang mengajariku mengaji bersimbah darah karena kezhaliman polisi. Dan aku bertekad untuk memasuki arena dakwah tersebut. Ku bersemangat untuk hijrah karena ku tahu disanalah aku berkesempatan kuliah. Demi mencari kammi. Ku mencari saudara di jalan dakwah ini. Mencari…, hingga kutemukan mereka mendeklarasikan wajihah kammi di kota sidoarjo. Ku diam mempelajari keadaan, kubertanya, kumenjalin komunikasi dengan mb’ nurul, mb’ uut, mb’ eli, mb’ darsih. Ku bertanya terus, sesekali berhenti karena kudapati mereka kelelahan dan perlu istirahat. Akhirnya sedikit demi sedikit kutawarkan bantuan…,”mbak, ada kerjaan kammi yang bisa ku bantu nggak…?”. Hingga untuk pertama kalinya, aku hadir di dm 1 (Cuma setengah hari, karena disuruh pulang sama bos di tempat kerja), syuro persiapan aksi tolak bush, persiapan muskom, akhirnya…secara alami aku dan kammi menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

Lalu mulailah kududuk di forum kamda, mewakili sidoarjo. Duduk, diam, mempelajari, bertanya, dan ya! Mulai berbicara, memberikan kontribusi yang konstruktif. InsyaAllah..

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam”

Menurutku tidak ada alasan bagi teman-teman yang tidak mengerti untuk terus tidak mengerti. Semua bisa diubah dengan satu kata : Tanya. Sepatah kata yang juga mengandung kerja nyata. Sama seperti teman-teman, aku akan diam bila tidak diperlukan untuk berbicara, aku akan berbicara bila memang dalam kepalaku banyak sekali informasi, pemikiran, pendapat yang harus saya sampaikan (apalagi ketika terjadi kevakuman), dan aku akan bertanya bila aku mulai kehilangan daya paham.

Banyak hal yang sebenarnya bisa kita lakukan tanpa diajak atau diminta, bila yang lain belum bergerak, bergeraklah sendiri dulu, jadilah babat alas, maka niscaya yang lain terinspirasi untuk mengikuti. Itu akan terjadi secara alami. Bila ada kesalahan saudaramu yang melenceng dari jalan dakwah ini, nasehatilah dengan baik, dengan sebaik-baik kata. Berikanlah masukan yang konstruktif, bantulah ia untuk memperbaiki diri. Dengan sekemampuan diri kita. Hal itu akan jauh lebih baik daripada kita hanya merasa kecewa dengan saudara kita itu, melecehkannya, serta meninggalkan wajihah dakwah tempat kita berada, hanya karena sebuah kekecewaan. Sungguh hal tersebut tidak menunjukkan epilog kedewasaan.

Berikut adalah tulisan dari seorang ikhwah di belahan bumi sana :

Tak ada manusia yang tak pernah kecewa karena sesungguhnya kecewa itu manusiawi. Hanya saja, feed back dari kekecewaan itu berbeda pada diri setiap orang. Ada orang – orang yang mampu mengatasi dan mengubah kekecewaan itu dengan energi positif yang konstruktif, namun ada juga orang – orang yang tidak mampu mengatasinya karena lebih didominasi energi negatif yang destruktif.

Kekecewaan tak lagi syari’i bila didasari oleh hawa nafsu, dan bukan atas dasar kebenaran (al haq). Tak lagi rasional bila kemudian berubah menjadi kedengkian dan kebencian yang menghancurkan diri sendiri dan memporak-porandakan teman-teman di sekelilingnya. Maka motto yang sebaiknya ada dalam diri kita adalah, “Jangan terlalu banyak menuntut, jadikan diri kita bermanfaat bagi orang lain.”

9 ENERGI POSITIF

1. Tentara terdepanmu adalah keikhlasan

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan…(Q.S An Nisaa:125)

Meminjam istilah dari sebuah artikel yang pernah penulis baca, Tentara terdepanmu adalah keikhlasan. IStilah ini sangat tepat karena memang keikhlasan adalah garda terdepan kita untuk menghadapi segala rintangan di jalan da’wah. Keikhlasan membuat kita tak kenal lelah dan tak kenal henti dalam menyampaikan Al Haq karena tujuan kita hanya satu : Allah SWT. Jika tujuan kita menyimpang kepada yang sifatnya duniawi, maka saat tujuan itu tak tercapai, kita akan mudah kecewa dan berbalik ke belakang.

Bila berdakwah lantaran mengharapkan apa-apa yang ada pada manusia, berupa penghormatan, penghargaan, pengakuan eksistensi diri, popularitas, jabatan, pengikut dan pujian, maka hakekatnya kita telah berubah menjadi hamba manusia, bukan lagi hamba Allah SWT.

Kisah yang sangat menarik ketika Khalid bin Walid selaku panglima perang yang notabene sangat berjasa bagi kaum muslimin, tiba-tiba diturunkan jabatannya menjadi prajurit biasa oleh Khalifah Umar bin Khathab. Namun Umar melakukan itu karena melihat banyaknya kaum muslimin yang mengelu-elukan kepahlawanan dan cenderung mengkultuskan Khalid. Sehingga umar khawatir hal itu akan membuat Khalid ujub (bangga diri), yang dapat mengakibatkan hilangnya pahala amal-amal Khalid di hadapan Allah SWT. Dan Subhanallah…Khalid tidak marah ataupun kecewa karena jabatannya diturunkan, bahkan ia tetap turut berperang karena Allah SWT bukan karena Umar.

2. Harus Tahan Beramal Jama’i

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai…(QS. Ali Imran:103)

Beramal jama’i itu jalannya tidak selalu datar, ada kalanya mendaki, karena dalam beramal jama’I kita akan menemui berbagai macam sifat manusia, berbagai pemikiran, fitnah dari luar, pun dari dalam. Namun bagaimanapun buruknya kondisi jama’ah, tetap saja amal jama’I itu lebih baik dan lebih utama dari amal sendirian. Ali bin Abi Thalib berkata “Keruhnya amal jama’i, lebih aku suka daripada jernih sendirian”

Kekuatan utama kita adalah persatuan kaum muslimin. Sesungguhnya kekalahan kita saat ini bukanlah karena kehebatan bersatunya kaum kuffar, tetapi karena tidak bersatunya kaum muslimin. “Kejahatan yang terorganisir akan mampu mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir.”

Orang-orang yang memisahkan diri dan lari dari barisan dakwah, sesungguhnya tidak akan membuat barisan dakwah ini melemah atau kehilangan kader. Justru barisan ini akan semakin kokoh dan solid karena mengindikasikan yang tergabung didalamnya, tinggalah orang-orang yang teruji memiliki jiwa-jiwa pemersatu. Inilah sebuah sunnatullah yang senantiasa berlaku untuk membedakan antara loyang dan emas.

3. Bermanfaat bagi orang lain

Rasulullah bersabda,”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Qudhy dari Jabir).

Bila kita melihat ukhuwah dalam barisan dakwah ternyata belum seindah seperti shirah yang kit abaca, atau ternyata hijab di lembaga dakwah amat cair, maka adalah sangat wajar bila kita kecewa. Tetapi kekecewaan itu jangan dipelihara, jangan justru membuat kita bersungut-sungut, menuntut lebih, berkeluh kesah, apatah lagi sampai kita memisahkan diri dari barisan. Mari ubah sudut pandang, dan kita tekankan bahwa segala kekurangan yang ada pada barisan dakwah adalah justru menjadi kewajiban kita untuk membelanya. “Jangan terlalu banyak menuntut, jadikan diri kita bermanfaat bagi orang lain”

4. Penuhi hak sesama muslim

* Saling menasehati (QS. Al Ashr:1-3)

Kekurangan dalam diri qiyadah, jundi, lembaga, manajemen, hendaknya disampaikan dalam bentuk nasehat. Untuk yang sifatnya pribadi –sebagai adab nasehat- adalah disampaikan tidak dalam forum, tetapi disampaikan pribadi, berdua saja, dalam rangka saling berpesan untuk nasehat menasehati dalam menetapi kesabaran. Karena bila kita memberi nasehat dihadapan orang banyak, maka itu sama saja membuka aibnya dan menjatuhkannya. Apalagi bila sampai melakukan siding layaknya menghakimi terdakwa. Sangatlah tipis perbedaan antara orang yang ingin menasehati karena landasan kasih saying, dengan orang yang menasehati karena sekaligus ingin membuka aib saudaranya, sehingga membuat diri yang dinasehati seakan lebih rendah dari yang menasehati.

* Lemah Lembut

Allah Berfirman tentang salah satu cirri jundullah (tentara Allah) : “..yang bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin…(QS. Al Maidah:54)

* Jangan Dengki

Rasulullah bersabda : “Takutlah kamu semua akan sifat dengki sebab sesungguhnya dengki itu memakan segala kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar” (Riwayat Abu Daud dan Abi Hurairah)

* Jangan Suudzon

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain…(QS. Al Hujurat:12)

* Berendah hatilah

Allah berfirman, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. An Naml:215)

* Jangan Berbantahan

Allah berfirman “…dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menjadikan kamu gentar, dan hilang kekuatanmu…” (QS. Al Anfaal:46). Berbantah-bantahan sesame kita, padahal musuh diluar, sudah siap menerkam.

5. Musuh terbesar kita adalah setan

Musuh kita bukanlah seorang muslim, apatah lagi sesame aktivis. Musuh terbesar kita adalah iblis dan bala tentaranya. Mereka senantiasa akan merusak ukhuwah kita dari kiri, kanan, depan dan belakang (QS. Al A’raf:17). Hendaknya kita senantiasa ingat akan janji iblis untuk menyesatkan hamba-hamba-Nya (QS. Al Israa:62)

Ini akan menjadi landasan kita untuk selalu menatap saudara kita dengan penuh kasih saying karena boleh jadi saat saudara kita menyakiti kita, adalah lantaran banyaknya setan disekelilingnya yang terus menerus membisikinya untuk membenci kita, demikian pula sebaliknya, bias jadi setan menghembuskan prasangka-prasangka di dalam benak kita. Maka, mari kita jadikan setan musuh bersama.

6. Sukses dakwah bukanlah karena kehebatan kita

Allah berfirman, “ Maka, bukan kamu yang mebunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka. Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar. Tetapi Allahlah yang melempar…” (QS. Al Anfal : 1)

Ayat ini menyatakan bahwa kemenangan dalam medan peperangan, pun dalam suksesnya dakwah, bukanlah karena kepintaran kita dalam membuat strategi dakwah, tetapi tak lebih karena pertolongan dari Allah. Jika tidak, maka apa bedanya kita dengan Qarun yang berkata “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku…” (QS. Al Qashash:78). Dan kita lihat bagaimana ending kehidupan dari Qarun yang ditenggelamkan Allah ke perut bumi.

7. Mujahid itu teman kita sendiri

Mujahid dan mujahidah itu sesungguhnya ada di sekeliling kita, di dekat kita. Ya, bias jadi mereka adalah teman – teman kita sendiri. Maka sangat aneh bila kita kerap kali menitikkan air mata saat ingat mujahid-mujahid di Palestina, Iraq..dll. Tetapi dengan saudara-saudara mujahid di sesame lembaga saja, kita tidak bias berlapang dada.

8. Ingat Kematian

Rasulullah bersabda, “Perbanyaklah kalian mengingat mati, sebab seorang hamba yang banyak mengingat mati, maka Allah akan menghidupkan hatinya, dan Allah akan meringankan baginya rasa sakit saat kematian.”

9. Doakan di shalat malam kita

Do’a adalah senjata orang-orang beriman dan bila kita mendo’akan saudara muslim kita tanpa sepengetahuannya, maka para malaikat akan berkata “Untuk kamu juga…” Rasulullah bersabda, “Tidak seorang muslim pun mendo’akan kebaikan bagi saudaranya sesame muslim yang berjauhan melainkan malaikat mendo’akannya pula. Mudah-mudahan engkau beroleh kebaikan pula.” (HR. Muslim)

Begitulah kawan, 9 Energi positif yang kudapatkan dari pencarianku akan obat hati. Maka yang kuinginkan adalah berbagi ilmu yang berharga ini. Agar aku, kamu, mereka, semua bisa kembali tegap melangkah, disaat langkah-langkah kaki kita mulai menyurut. Mudah-mudahan menjadi amal jariyah yang menyelamatkan dari panasnya api neraka.

Aku ingin kita semua tetap berada disini, di rumah dakwah kammi yang membesarkan kita. Apapun posisi kita, teruslah beramal. Marilah kita berdo’a semoga Allah mengikat hati-hati kita menjadi satu dan memberikan semangat pengorbanan yang mendorong kita memberikan keringat, harta, dan jiwa kita. Mengeluarkan kita dari kehinaan kepada kemuliaan, dari perpecahan kepada persatuan, dari kebodohan kepada pemahaman & mengekalkan setiap diri kita sebagai pemberi petunjuk dan penghuni Surga-Nya kelak. Amin…

“Zahra, jangan pernah berharap saya akan mengajari anda. Bereksplorasilah sendiri,tuangkanlah ide-ide, bila menemui kesulitan, bertanyalah......” (Pak Navy –ketua himpaudi jawa timur)

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam”

Untuk papa dan mamaku yang tidak pernah kecewa akan diriku

Binti_Choir
Theme images by Bim. Powered by Blogger.