Latest News

Natal dan Takdir Keberagaman Kita



“NATAL & TAKDIR KEBERAGAMAN KITA”

Mengertilah, bahwa kami mengikuti kebahagiaan seluruh keluarga yang sedang merayakan natal.

Inilah perasaan sebangsa... jangan cemas dan bimbang... kita satu keluarga, kita akan saling menjaga dan kita semua adalah saudara dalam batas iman kita masing-masing.

Mengertilah, bahwa ini semua berasal dari yang sederhana, tetapi kemudian menjadi kompleks. Ini awalnya soal iman yang sederhana tapi kemudian menjadi politik yang rumit.

Iman seperti saya sering katakan tidak bisa menerima campuran. Apakah ini soal iman?

Tapi, mari mulai dengan sikap moderat. Jangan salahkan umat Islam atau yang berpandangan bahwa ini soal iman.

Perlahan, kita pasti bisa temukan alasannya. Tapi syaratnya pikiran kita terbuka dan dada kita lapang. Sikap iman seseorang tidak bisa dipaksa.

Mengertilah kita bahwa percakapan soal Hari Natal sangat terkait dengan sesuatu yang mendalam dan prinsip dalam agama.

Janganlah ia mempersulit kita menjadi warga negara dan saudara hanya karena kita salah paham tentang iman saudara saudara kita.

Mengertilah, bahwa ada seseorang yang dihormati dalam penganut 2 agama samawi Muslim dan Nasrani: yaitu Nabi Isa (Yesus).

Pada kalangan saudara kita yang Kristiani ada perbedaan tentang waktu, tapi hampir semua sepakat tentang kelahiran.

Dalam percakapan hari natal kita tak mungkin meninggalkan sikap keagamaan kita tentang nabi yang mulia.

Kemuliaan Nabi Isa dan ibunya Siti Maryam dalam Islam bukan suatu yang sederhana sebab nama mereka disebut lebih banyak dalam Qur’an daripada Nabi Muhammad SAW.

Bisakah kita mengabaikan kedekatan dua agama? Tidak bisa, sebab apa yang ada dalam Alquran terkait dengan dua agama.

Alquran mengisahkan Siti Maryam melebihi Injil dan mengandung Surat Maryam sebagai penghormatan kepada Ibunda beliau (Isa AS)

Jadi, mengabaikan kedekatan ini bisa membuat kita terprovokasi oleh politik dan adu domba sehingga kita tak pernah berdamai dan terus saling mencela.

Ada bahkan yang menganggap bahwa saling mencela ini adalah metode permanen.

Mengertikah kita bahwa perbedaan ini ada? Seperti kata Ulama Ahmad Deedad, “Jangan ragukan penghormatan agama Islam kepada Nabi Isa AS, kami percaya beliau dilahirkan tanpa Ayah, beliau adalah Ulul Azmi, memiliki mukjizat yg luar biasa, menghidupkan orang mati, dll.”

Tapi kembali ke soal awal, apakah ini soal iman atau soal tanggal lahir? Itulah batas toleransi kita.

Sebab kalau soal iman dalam Islam sangatlah keras menolak konsep “Tuhan Punya Anak” sementara di sebagian sahabat kristiani itu final. Maka ini tidak bisa ketemu.

Saya sendiri, lebih mengikuti ulama-ulama Ikhwan yang menganggap ini soal tanggal lahir belaka.

Terserah interpretasi lebih jauh, bahwa beliau lahir maka itu pertanda beliau manusia biasa seperti maulid Nabi SAW. Saya berhenti sampai di sana.

Bukan urusan kita soal lahirnya bulan berapa dan diberi makna apa oleh orang lain, sebagai muslim saya percaya beliau manusia yang dipilih menjadi Rasul yg istimewa oleh Allah SWT, dan beliau lahir seperti manusia biasa dan selamat atas kelahiran beliau. Hanya itu.

Sikap Ikhwan selama ini saya ikuti. Dan dari penjara, mantan presiden Mesir Mohammad Morsi, tokoh utama Ikhwan itu kemarin mengucapkan Selamat Natal 2017.

Meski sayang sekali tokoh moderat semakin dikriminalisasi. Ujungnya muncul radikalisasi.

Itulah yang perlu kita ketahui dari sisi lain ucapan Selamat Natal semoga kita sadar bahwa semua ini tidak berdiri sendiri.

Ketegangan hari ini dibuat untuk membuat kita semua bermusuhan. Dan membuat orang moderat menjadi radikal. Dunia yang kacau adalah proyek pengadaan.

Bisnis di balik ketegangan ini adalah bisnis mahal. Mereka menjual semua hal, mulai alat deteksi dini dan teknologi penyadapan sampai alat perang dan industri pengamanan.

Dan kita hanyalah mangsa dan pasar mereka. Kita membayar pesta pora mereka siang malam.

Marilah kita mulai sebuah percakapan. Untuk merapatkan barisan. Jangan biarkan musuh memasuki barisan kita.

Mereka hanya mau membuat kita saling meragukan. Mari kita terima perbedaan. Dengan senyum dan dialektika.

Bagi saudara-saudara kami yang merayakan natal, rayakanlah, mengertilah bahwa agama adalah keyakinan kita masing-masing.

Takkan kami biarkan gangguan sedikitpun karena Nabi kami berpesan. “Siapa yang berani mengganggu tetangga yang tak seagama maka sama dengan menggangguku”.

Jika ada yang tidak mengucapkan Selamat Hari Natal biarlah, itu ruang perbedaan. Tapi jangan anggap akan ada yang mengganggu perayaan.

Takkan ada, sebab dalam perang pun apa yang melekat pada agama menjadi suci.

Mari kita terima keberagamaan kita dan keberagaman berbangsa tanpa perasaan tegang.

Nikmatilah ia sebagai sebuah jalan kehidupan sebab Tuhan tak pernah mengijinkan pemaksaan. “lakum dinukum waliyadien”. Selamat natal bagi yang merayakan.

Twitter @Fahrihamzah 25/12/2017

No comments :

Post a Comment

Syukron atas komentarnya, HAMASAH!!!

Theme images by Bim. Powered by Blogger.